Senin, 10 Januari 2011

Pawukon

Wuku - Horoscope Jawa

Wuku
(Horoscope jawa)

Sejarah Wuku

Wuku adalah perlambang dari sifat-sifat manusia yang dilahirkan pada hari-hari tertentu seperti layaknya horoskop atau perbintangan yang kita kenal. Adapun maksud dan tujuan diciptakan wuku oleh para leluhur Jawa ,adalah untuk mengetahui karakter manusia  pada sisi kebaikkan dan keburukkannya ,saat-saat sialnya, dan doa penangkal dan  keslamatannya.
Adapun sejarah asal-usulnya wuku yang berjumlah 30 macam sebagai berikut :
Di ceritakan ada dua putri bersaudara yang bernama dewi Shinta dan dewi Landep, dua-duanya diperistri oleh seorang pandita yang bernama resi Gana., resi Gana ini adalah putra ari bethara Temburu dalam ceritanya dalam memperistri dua putri tersebut, resi Gana belum mendapatkan putra dan cintanya dikarenakan usianya yang sudah tua serta berburuk rupa, pada suatu malam karena cinta kasihnya pada salah satu istrinya ( dewi shinta ) sang Resi mendapatkan kekecewaan karena perilaku sang dewi Shinta tersebut.
Sehingga menyebabkan sang Resi menjadi muksa ( menghilang secara gaib ). Pada saat itu sang Resi sempat mengucap / bersabda kepada dewi Shinta “ Pada suatu kelak nanti wiji yang tertanam dalam rahimnya akan menghasilkan anak laki-laki agar diberi nama “
Raden Watu Gunung “ Singkat cerita dewi Shinta akhirnya hamil dan mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama seprti sabda tersebut, sang bayi menjelang akhir dewasa nafsu makannya luar biasa / tidak lumrah seperti bayi-bayi yang lain, hingga pada sutau saat ketika dewi Shinta menanak nasi Raden Watu Gunung mengis sesengguhan, saking kesalnya dewi Shinta memukul dengan entong ( sendok nasi ) kemudian Watu Gunung kecewa sekali lalu pergi tanpa pamit.
Setelah selesai menanak nasi dewi Shinta mencari putranya, akan tetapi tidak pernah ketemu. Saking susah hatinya dewi Shinta dibantu dewi Landep bertapa di pedepokan ( rumahnya ) dalam pertapaannya akhirnya dua putri tersebut mendapatkan kesaktian yang luar biasa, sehingga banyak pandita-pandita yang lain banyak belajar ilmu dan ingin melamarnya. Tetapi semuanya ditolak, bahkan ada seorang resi yang sangat sakti pun yaitu Resi Tama bahkan ingin memaksanya untuk memperistrinya. Hal ini mengakibatkan dua putri tersebut lari tunggang langgang, inipun masih dikejar resi Tama. Para Pandita yang lain mendaptkan kabar ini akhirnya berbalik menjadi belas kasihan dan akhirnya memburu sang Resi Tama. Dalam peperangan sang Resi Tama dapat mengalahkan semua resi-resi tersebut, bahkan terus mengejar dua putri tersebut sampai ke negara Medangkamulan dengan rajanya Manuk Madewa yang masih berdarah betara Brahma, dengan patihnya berjuluk Patih Citro Dana. Di negara inipun sang Prabu Manuk Madewa juga kasamaran terhadap kecantikan kedua putri tersebut. Sang Putri agaknya mau dengan syarat : “ Bisa mengalahkan sang Resi Tama yang mengejar-ngejar tersebut “ akhirnya dikerahkan bala tentara untuk memerangi sang resi Tama dibawah pimpinan patih Citra Dana, namun dalam peperangan tersebut prajurit dari negeri Medang Kamulam kocar-kacir.
Diceritakan Raden Watu Gunung setelah terpukul oleh entong ( sendok makan ) tersebut sampai di hutan Selo Gringging, luka dikepala akibat pukulan ibunya akhirnya sembuh sendiri dan berbekas. Pada suatu saat Raden Watu Gunung bertemu dengan masyarakat di sekitar hutan tersebut yang sedang mengadakan kendurian atau keselamatan, Raden Watu Gunung ikut dalam selamtan tersebut namun banyak melahap makanan yang disajikan diluar batas kewajaran. Sehingga mengakibatkan kemarahan masyarakat akhirnya dianiaya berramai-ramai, dalam penganiayaan tersebut ternyata Raden Watu Gunung tidak merasakan kesakitan bahkan terus melahap makanan yang tersaji, hal ini mengakibatkan keheranan masyarakat yang akhirnya malah sang Raden Watu Gunung dijadikan Raja diwilayah tersebut, bahkan dibuatkan keraton dan diangkat raja dengan gelar Prabu Watu Gunung. Pada suatu ketika sang Prabu mendengar cerita bahwa di negara Medang Kamulan terjadi peperangan yang disebabkan seorang Resi Tama sedang memperebutkan dua orang putri yang cantik jelita, sehingga Prabu Watu Gunung pun ingin ikut memperrebutkannya. Akhirnya Prabu Watu Gunung bertolak ke negara Medang Kamulan lalu berhadapan langsung dengan sang Resi Tama. Bahkan akhirnya dapat mengalahkan Resi Tama. Namun ketika Resi Tama dapat dikalahkan Raden Watu Gunung, yang terdengar kabar di istana Medang Kamulan adalah patihnya yang bernama Citra Dana dalam perjalanannya menuju ke istana sang patih tersebut dielu-elukan, bahkan sang Prabu Manuk Madewa ikut membangga-banggakan atas kesaktian patihnya. Hal ini terdengar oleh Prabu Watu Gunung, yang menyebabkan kekecewaannya.
Singkat cerita terjadi peperangan lagi antara Prabu Watu Gunung dengan Prabu Manuk Madewa yang akhirnya Prabu Manuk Madewa tewas. Dan akhirnya menjadi raja di Medang Kamulan yang kemudian kerajaan tersebut diganti nama negara Giling Wesi, bahkan dua orang putri tersebut diangkat sebagai permaisurinya. Diceritakan lagi setelah istri sang Prabu Watu Gunung, dewi Shinta melahirkan putra yang selalu kembar sampai 13 kali ( kecuali yang nomor 14 ) sehingga jumlah putra sang prabu 27 :  
1.      Raden Wukir kembar dengan Raden Kurantil
2.      Raden Tolu kembar dengan Raden Gumbreg
3.      Raden Warigalit kembar dengan Raden Warigagung
4.      Raden Djulungwangi kembar dengan Reden Sungsang
5.      Raden Galungan kembar dengan Raden Kuningan
6.      Raden Langkir kembar dengan Raden Mandasija
7.      Radem Djulungpujud kembar dengan Raden Pahang
8.      Kuruwelut kembar dengan Raden Marakeh
9.      Raden Tambir kembar dengan Raden Madangkongan
10.  Maktal kembar dengan Raden Wuje
11.  Raden Manail kembar dengan Raden Prangbakat
12.  Raden Bala kembar dengan Raden Wugu
13.  Raden Wajang kembar dengan Raden Kuwalu
14.  Raden Dukut tidak kembar  
Singkat cerita pada suatu ketika dewi Shinta diperintahkan untuk mencari kutu di kepala Sang Prabu Watu Gunung, betapa terkejutnya sang dewi Shinta melihat bekas luka kepala sang prabu, yang mengingatkan kejadian putranya di waktu dulu, sang prabu bahkan sempat menceritakan asal mualasan luka tersebut, yang ternyata dewi shinta adalah ibunya sendiri terjadilah keharuan yang luar biasa, betapa berat cobaan hidup ini, dan betapa memalukan kejadian ini. Sehingga diniatkan jangan sampai rahasia ini diketahui orang lain, sambil menangis dewi Shinta berkata “ Sababing Karuna Ajalaran Saking Kepengine Duwe Maru Widodari Kahyangan “ yang artinya tangisnya dikarenakan keinginan untuk mengawinkan anaknya dengan sang bidadari kahyangan. Dikarenakan keterlanjuran cintanya pada sang dewi Shinta sang Prabu mengumpulkan semua putranya dan memerintahkan prabu Raden Prangbakat untuk naik ke kahyangan bertemu dengan Bathara Guru lalu memohon seorang bidadari bernama dewi Sri untuk diperistri sang Prabu dengan cara tebak-tebakan.
Diceritakan di kahyangan: Djunggring Salaka Sang Hyang Guru : Resi Narada didatangi oleh Raden Prangbakat atas pesan bapaknya : dengan membawa dua buah ayam peking dimana Bathara Guru (putra Bathara Wisnu) dipersilahkan menebak mana yang jantan dan mana yang betina. Bathara Wisnu menjawab “yang betina adalah yang bertelinga bolong dan yang jantan yang bertelinga mampat”. Namun dalam ceritanya di kahyangan niat Watu Gunung dianggap merusak tatanan wilayah kahyangan kemudian Bathara Wisnu memimpin untuk (Ngluruk)-mendatangi sang Prabu di Gilingwesi akhirnya terjadilah peperangan para dewa dengan sang prabu didahului dengan perang putra-putra sang prabu yang dikepung oleh pasukan para dewa. Dalam peperangan tersebut yang dipimpin oleh Prabu Watu Gunung sendiri ternyata sulit dikalahkan. Akhirnya Bathara Wisnu mencari tahu kelemahan sang prabu dari putranya sendiri yaitu Raden Srigati yang kemudian Raden Srigati mengutus Wil Awuk sebagai mata-mata untuk mengetahui kelemahan Watu Gunung. Wil Awuk merubah dirinya menjadi ular kecil (ulo kisi) diceritakan Wil Awuk berhasil masuk ke tempat pelaminan sang prabu yang pada saat itu sedang menceritakan tentang kesaktiannya kepada sang dewi Shinta yang disana sempat diceritakan tentang rahasia kelemahan sang prabu dimana hari naasnya jatuh pada hari anggara kasih jam 12 siang (bedug awan) yaitu pada hri yang sama saat kelahiran Raden Galungan yang juga bersamaan saat Watu Gunung mengalahkan Prabu Manuk Madewa. Kelemahan ini akhirnya dipakai oleh Bathara Wisnu untuk menumpas kerajaan Gilingwesi dan akhirnya tumpaslah sudah kerajaan tersebut. Pada akhirnya diceritakan dewi Shinta dan dewi Landep masih hidup dan menangis memohon Sang Hyang Jagad Noto untuk memohon keadilan kemudian turunlah Resi Narada diutus untuk memberitahukan sebab musababnya yang ternyata disebabkan kesalahannya sendiri yaitu memberitahukan kelemannya kepada Sang Dewi Shinta dimana terdengar oleh Wil Awuk.
Sebagai gantinya sang dewi akan dikabulkan permintaannya asalkan tidak meminta hidupnya kembali sang Watu Gunung besarta putranya sedangkan permintaan sang dewi Shinta hanya ingin Watu Gunung dan semua putranya dimaafkan kesalahannya dan masuk surga bersama-sama dengan dewi Landep. Permohonan ini dipenuhi oleh Sang Hyang Jagad dimana urut-urutan masuk surga adalah :
1.      dewi Shinta
2.      dewi Landep
kemudian diikuti ke-27 putranya yang terakhir Watu Gunung (no 30)
oleh Bathara Wisnu ke tiga puluh nama tersebut dijadikan dasar perhitungan Wuku
WUKU dan KELAHIRAN
Tiap-tiap wuku mempunyai watak sendiri-sendiri. Watak wuku dapat dipergunakan untuk mengetahui dasar watak bayi lahir :  
1. Sinta..dewanya sangyang Yamadipati = seperti pendita, wataknya seperti raja, banyak tingkah, keras, bahagia, kaya harta benda. Memanggul tunggul = mempunyai kesenangan hidup. Kaki belakang direndam dalam air = perintahnya panas depan dingin belakang. Pohonnya : Kendayakan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat.
Burungnya : Gagak = mengerti petunjuk gaib. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya : Setengah umur. Tangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah dikukus, lauknya daging kerbau seharga 21 keteng dimasak pindang, membelinya tidak menawar. Selawatnya 4 keteng. Doanya : Tolak bilahi. Candranya : Endra = gemar bertapa brata, angkuh, suka kepada kepanditan. Ketika kala wuku berada ditimu laut, selama 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
2. Landep.dewanya sangyang Mahadewa = bagus rupanya, terang hatinya, gemar bersemadi. Kakinya direndam dalam air  = perintahnya keras didepan kendur  dibelakang, kasih sayang. Pohonnya : Kendajakan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burungnya : Atatkembang = jadi kesukaan para agung, jika menghambakan diri jadi kesayangan. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. 
Bahayannya : korobohan pohon. Tangkalnya : Selamatan tumpeng beras sepitrah dikukus. Lauknya daging rusa dicacah lalu dibakar. Selawatnya 4 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : Surating raditya = tajam ingatannya, dapat mengerjakan segala pekerjaan, dapat menggrirangkan hati orang lain.  
3. Wukir.dewanya sangyang Mahayekti = besar hatinya, menghendaki lebih dari sesama. Tunggalnya : didepan = akhirnya hidup senang. Menghadapi air di jembung besar = baik budi pekertinya. Pohonnya : Nagasari = bagus rupaya, sopan-santun, jika bekerja dicintai oleh majikannya. Burungnya : Manyar = tak mau kalah dengan sesama, dapat mengerjakan segala pekerjaan. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya : dianiaya.
Penaangkalnya : selamatan nasi uli, beras sepritah dikukus, daging ayam ayam putih dimasak pakai santan dan sayur lima macam. Selawatnya 4 keteng. Doanya rajukna. Candranya : Gunung artinya jika didekati sulit dan berbahaya jika dilihat dari jauh menyedapkan pemandangan. Ketika kolo wuku berada ditenggara, dalam 7 hari tidak boleh mendatangi tempat kolo.
4. Kurantil.dewanya sangyang Langsur = pemarah. Memanggul tunggal = akhirnya mendapat kesenangan hidup. Air dalam jimbung besar disebelah kiri = serong hatinya. Pohonnya : Ingas = tak dapat untuk berlindung, karena panas. Burungnya : Salinditan = tangkas. Gedungnya terbalik didepan = murah hati. Bahayanya : jatuh memanjat.
Penangkalnya : selamatan tumpeng beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam lereng dipecal. Selawatnya 7 keteng. Doanya : rajukna dan pina. Candranya : Woh-wohan = tak tentu rejekinya.Ketika kolo wuku berada dibawah, dalam 7 hari tak boleh turun dari gunung dan tak boleh menggali tanah.
5. Tolu.dapat menyenangkan hati orang lain, kalau marah berbahaya, tak dapat dicegah, Tunggulnya : dibelakang = kebahagiannya terdapat dibelakang hari. Pohonnya : Wijayamulya = sangat indah rupanya, tajam roman mukanya, tinggi adat-istiadatnya, teliti, suka pada kesunyian, selamat hatinya. Burungnya : Branjangan = riang tangan, cepat bekerjanya. Gedungnya didepan = suka memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya = ditanduk atau disiung.
Penangkalnya : selamatan nasi uduk beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam dimasak dengan santan. Selawatnya 3 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : Wangkawa = angkuh, tidak tetap, suka bohong.Ketika kolo wuku berada dibarat-laut, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
6. Gumbreg.dewanya sangyang cakra = keras budinya, segala yang dikehendakinya segera tercapai, tak mau dicegah, pengasih. Kakai sebelah yang didepan direndam dalam air = perintahnya dingin didepan, panas dibelakang. Pohonnya : beringin = jadi pelindung keluarganya, budinya tinggi. Burungnya : ayam hutan = liar, dicintai oleh para agung, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya dikirikan = penyayang, jika marah taka sayang kepada harta bendanya.
Bahayanya : tenggelam atau kejatuhan dalam. Tangkalnya : selametan nasi pulen beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam berumbun yang masih muda dan daun-daun 9 macam. Selawatnya 4 keteng. Doanya : Rajukna. Candranya : Geter nekger ing wijati = hening pikirannya, perkataannya nyata redhoan.Ketika “kala wuku” berada di Selatan menghadap utara, dalam 7 hari tidak boleh memandang wajah kala.
7.  Warigalit, dewanya sangyang asmara = bagus rupanya sering lawin, cemburuan, sedihan hati, sulit dijalani, tidak mau berhenti. Pohonnya : sulastri = bagus rupanya, banyak yang cinta. Burungnya : kepodong – cemburuan, tak suka berkumpul dengan orang banyak. Bahayanya : tersangkut suatu perkara.
Tangkalnya : selametan nasi urap beras sepitrah dikukus, lauknya daging kerbau ranjapan (pembelian bersama-sama), dimasak getjok. Selawatnya 8 keteng. Doanya : tolak bilahi. Candranya : kaju kemladean ngajak sempal = dimana-mana dapat tumbuh. Ketika “kala wuku” berada diatas, dalam 7 hari tidak boleh mendatangani tempat kala.
8.  Warigagung, dewanya sanghyang mahajekti = berat tanggungannya, berkeinginan. Tunggulnya : dibelakang – rejekinya dibelakang hari. Pohonnya : cemara = rame bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati. Burungnya : betet = keras kemauannya, pandai mencari kehidupan. Gedungnya dua buah dibelakang  dan didepan = ichlasnya hanya setengah. Bahayanya : dimarahi temannya.
Penangkalnya : selamatan nasi uduk bers sepitrah dikukus, lauknya daging bebek dimasak gurih dan daun-daunan 5 macam. Selawatnya 5 keteng. Doanya : rasul. Candranya : Ketug lindu = menepati perkataannya, jika marah menakutkan, tidak mau menerima takdir. Ketika “kala wuku” berada di utara menghadap ke selatan, dalam 7 hari tidak boleh mendatangani tempat kala.
9.  Julungwangi, dewanya sanghyang sambu = tinggi perasaannya, tidak boleh disamai. Mengahadap air dijembung = pradah ikhlasan, akan tetapi harus diperlihatkan harum = dicintai oleh orang banyak. Burungnya kutilang = banyak bicara dan perkataannya dipercayai orang, dicintai para pembesar.
Bahayanya : diterkam harimau. Tangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam brumbun dan uang suwang (+/- 81 ½ sen). Selawatnya : kucing. Doanya Tolak bilahi. Candranya : kasturi arum angambar = segala kehendaknya belum terjadi telah tersiar banyak yang cinta.
10. Sungsang, dewanya sanghyang gana = pemaranh, gelap hati. Air dijebung didepannya +/- pradah, ikhlasan, harus diperlihatkan pemberiannya, banyak rejekinya. Pohonnya : tanganan = tak suka menganggur, keras budinya, suka kepada kepunyaan orang lain. Burungnya : nori = pemboros, jauh kebahagiaannya, murka. Gedungnya terbalik dibelakang = ikhlasan dengan tidak pakai perhitungan. 
Bahayanya : kena besi. Tangkalnya : selamatan nasi megana dan tumpeng betas 2 pitrah, daun-daunan 9 macam dicampur dalam tumpeng. Selawatnya 10 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : sekar wora-wari bang = besar amarahnya, tetapi mudah dicegah. Ketika “kala wuku” berada di timur dalam 7 hari tidak boleh mendatangani tempat kala.
11. Galungan, dewanya sangyang Komajaya = tetap hatinya, dapat melegakan hati susah, cinta pada perbuatan baik, jauh kepada perbuatan jahat. Memangku air dalam bokor =suka bersedekah, pengasih, sedikit rejekinya. Pohonnya : Tanganan  = ringan tangan, tak mau berhenti, keras budinya, suka kepada kepunyaan orang lain. Burungnya : Bido = besar nafsunya, murka.
1.    Bahayanya : berselisih.Penangkalnya : selamatan nasi beras sepitrah dikukus, lauknya daging kambing. Doanya : Selamat pina. Candranya : peksi wonten ing luhur = jika mencari hasil dengan menundukkan kepala, sebab gora-goda. Ketika kolo wuku berada di selatan daya, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
12. Kuningan, dewanya sangyang Indra = melebihi sesama, tinggi derajatnya. Pohonnya : Wijayakusuma = rupanya sangat indah, sangat puaka, tinggi budinya dan teliti, menghindari keramaian, selamat hatinya. Burungnya : Urang-urangan = cepat bekerjanya, lekas marah, pemalu. 
1.     Gedungnya dibelakang, jendelanya tertutup = hemat. Bahayanya = diamuk..Penangkalnya : selamatan nasi punar beras sepitrah dikukus, lauknya daging kerbau membelinya beramai-ramai, digoreng. Selawatnya 11 keteng. Doanya : Kabul. Candranya : Garojogan = rame bicaranya, banyak bohong.Ketika kolo wuku berada di Barat, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
13. Langkir, dewanya sangyang Kala menggigit bahunya sendiri = besar nafsunya, tidak sayang kepada badannya sendiri, yang melihat takut, buruk adat-istiadatnya, tidak mau menurut, murka, banyak larangan. Pohonnya : Ingas dan cemara tumbang = panas hati, tak boleh didekati orang,
2.      Penangkalnya : selamatan nasi uduk beras sepitrah dikukus, lauknyadaging kambing dan ikan dimasak pakai santan, sayuran secukupnya. Selawatnya 5 keteng. Doanya : Slametpina. Candranya : Redi gumaludug = bicaranya menakutkan, tetapi tidak mengapa.Ketika kolo wuku berada di selatan daya, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
14. Mandasia,dewanya sangyang Brama, kuat budinya, pemaran, tak mau memberi ampun, jika marah tak dapat dicegah, tegaan. Pohonnya : Asam = kuat dan dicintai orang banyak, jadi pelindung sengsara. Burungnya : Platukbawang = kuat budinya, cepat pekerjaannya, tidak sabaran. Gedungnya terguling didepan = hemat dan banyak rejekinya. Bahayanya : Kena api dan dijahili orang.
3.     Penangkalnya : selamatan nasi merah beras sepitrah dikukus, sayur bayam merah, daging ayam merah dipindang dan bunga setaman yang merah. Selawatnya uang baru 40 keteng. Doanya : Slamat. Candranya : Watu item munggeng papreman lan wreksa gung lebet tancepnya = sabar, tetapi jika marah kejam.Ketika kolo wuku berada diatas, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
15. Djulungpujut, dewanya sangyang guretno, = suka kepada keramaian, tersiar baik, mempunyai kedudukan yang lumayan. Menghendaki bukit = besar kemaunnya, tak suka diatasi, menghendaki memerintah. Pohonnya : Rembuknya = indah warnanya, tidak berbau, dimana-mana jadi kunjungan orang. 
Burung : Prijohan = besar kemauannya, halus budinya. Bahayanya : diteluhPenangkalnya : selamatan tumpeng beras sepitrah dikukus, daging ayam merah dipanggang, daun- daunan 9 macam. Selawatnya 30 keteng. Doanya : Balasrewu dan Kunut. Candranya : Palwa ing samodra = kesana-kemari mencari nafkah, rejekinya tidak kurang.Ketika kolo wuku, berada di utara dan selatan, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
16. Pahang, dewanya sangyang tantra = perkataannya melebihi sesama, tidak sabaran menepati janji. Jembungnya disebelah kiri dibelakangnya = suka jalan serong. Memanggul senjata tajam = waspada, kasar perkataannya, panas hati, suka bertikai. Pohonya : Kendayaan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burung : Cocak = gelatak bicaranya. Gedung telentang = boros. 
Bahayanya : dianiaya.Penangkalnya : selamatan nasi uduk beras sepitrah, lauknya daging ayam dimasak sansan, daun-daunan 11 macem. Selawatnya 9 keteng. Doanya : Rasul.Candranya : Pulo katinggal saking tebih = tersiar semua tingkah lakunya, lahirnya suci, batinnya kotor, angkuh, selalu susah.Ketika kolo wuku berada di Barat-Laut dalam 7 hari tak boleh mengunjungi tempat kala.
17. Kuruwelut, dewanya sanhyang wisnu : tajam ciptanya, tinggi dan selamat budinya, melebihi sesama dewa. Memanggul : cakra = tajam hatinya, berhati-hati. Pohonnya : parijata = jadi pelindung dan besar kebahagiaannya. Burungnya : puter = jika berbicara mula-mula kalah, akhirnya menang, tidak pernah bohong, tidak suka terhadap perkataan yang remeh. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, puaka tak dapat dipermudah. 
6.      Bahayanya : kena racun daun. Tangkalnya : selamatan bermacam-macam sayuran, jajan pasar, sekar boreh, tindihnya uang lama sebaranDoanya : tawil. Candranya : tirta wening = sedikit bicaranya, suci hatinya, diturut perintahnya, jadi tempat pengungsian. Ketika “kala wuku” berada diatas, dalam 7 hari tidak boleh mendatangitempat kala.  
18. Mrakeh, dewanya sangsyang surenggana = tawakal hatinya, agak ingatan, berkesanggupan, berani kepada kesulitan. Tunggulnya membalik = lekas hidup senang. Pohonnya : Trengguli = buahnya tidak berguna. Tak mempunyai burung = tak boleh disuruh jauh, tentu mendapat bahaya. Gedungnya dipanggul = memperlihatkan pemberian. Bahayanya : tenggelam. 
7.     Tangkalnya : selamatan nasi uduk, daging ayam mulus dimasak dengan santan dan bermacam-macam ketan. Selawatnya 100 keteng.Doanya : tolak bilahi. Candranya : pandam ageng amerapit = tawakal, mempunyai hati kasihan kepada orang miskin. Ketika “kala wuku” berada di utara, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
19. Tambir, dewanya sanghyang siwa = lahir dan batinnya berlainan. Pohonnya : Upas = tak dapat untuk berlindung, panas perkataannya. Burungnya : prenjak = sombong, suka membuat perkabaran yang mengherankan, tahu petunjuk gaib. Gedungnya 3 tertutup semua = lokek dan dengki, tak bisa kaya hanya cukup saja. Bahayanya : terkena pasangan. Tangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah diliwet, lauknya daging bebek dan ayam dipindang, kuah merah dan putih dan ketimun 25 buah.
8.     Selawatnya : pisau baja dan jarum satu. Doanya : slamet pina. Candranya : idune lir upas ratjun = dihargai semua perkataannya. Ketika “kala wuku” berada di barat daya, dalam 7 hari tidak boleh mengunjungi tempat kala.
20. Madangkungan, dewanya sanghyang basuki : ahli bicara, tawakal, tetap hatinya. Pohonnya : plasa = hanya jadi perhiasan hutan, tidak ada gunanya. Burungnya : pelug = suka tinggal di air, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya di atas = mendewa-dewakan kekayaannya, tawakal, hemat. Bahayanya : dibunuh pada waktu malam. Tangkalnya
9.      selamatan nasi punar beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam kuning (wiring kuning) dan berumbun, digoreng, jenang merah pada waktu hari kelahirannya. Selawatnya : 5 keteng. Doanya : ngumur. Candranya : umajang kang tetabuhan = menepati perkataan, dan dapat menyenangkan hati orang lain. Ketika “kaa wuku” berada di timur, dalam 7 hari tak boleh mendatangi kala.
21. Maktal, dewanya sanghyang sakri = burus hatinya, baik pekerjaannya. Pohonnya : nagasari = bagus rupanya, lemah lembut tutur katanya, dicintai oleh pembesar. Burungnya : ayam hutan = liar dan tinggi budinya, banyak tanda-tandanya akan mendapat bahagia, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya ditumpangi tunggal = kaya benda dan dihormati. Bahayanya = bertikai.
10.  Tangkalnya : selamatan nasi uduk, daging ayam dan bebek dimasak 2 macam, dipindang dan dimasak dengan santan, niatnya : ngrasul. Selawatnya 4 keteng. Doanya : rasul. Candranya : lesus awor lan pancawara = lebar pemandangannya, dalam pikirannya. Ketika “kala wuku” berada di timur laut, dalam 7 hari tak boleh mendatangi kala.
22. Wuje, dewanya betara kuwera = menggirangkan hati orang lain, perkataannya lurus dan mengherankan, singkat hati, tetapi sebentar baik. Memasang keris terhunus disebelak kaki = waspada dan tajam hatinya. Pohonnya : Tal = panjang umurnya, besar tanda kebahagiannya, kuat dan tetap hatinya. Burungnya : gogik = cemburuan, tak suka kepada keramaian. Gedungnya terlentang didepan = pengasih.
      Bahayanya : diteluh. Tangkalnya : selamatan jajan pasar secukupnya dan bermacam-macam ketan seharga sataksawe (+/- 10 sen). Yang dibeli dahulu madu untuk selanunggal rum arum = peteng hati, sukar dijalani, suka kepada bau harum, besar kehendaknya. Ketika “kala wuku “ berada di barat, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
23. Manahil, dewanya sangyang Citragatra = menjunjung diri sendiri, dapat berkumpul ditempat ramai, angkuh, selalu bersedia-sedia untuk membela diri. Air dijembung dibelakangnya = Arum perintahnya, akan tetapi tak mempunyai pangkat. Memangku tombak terhunus = waspada dan tajam hatinya.
       Pohonnya : Tageron = sedikit faedahnya, liat hatinya. Burungnya : Sepahan = liar budinya, tajam pikirannya. Bahayannya : terkena senjata tajam.Penangkalnya : selamatan nasi liwet beras sepitrah, lauknya daging ayam dan ikan, sayuran secukupnya, sambal gepeng. Selawatnya 8 keteng. Doanya : Selamat tolak bilahi. Candranya : Trenggana abra ing wijit = sabar segala kemauannya, tak suka menganggur, banyak kemauannya.Ketika kala wuku berapa di Tenggara, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
24. Prangbakat, dewanya sangyang Bisma = pemarah, tangkas, pemalu, memperlihatkan watak prajurit, menghendaki jadi pemimpin orang, lurus pembicaraannya, segala yang dikehendaki tak ada sukarnya. Kakinya kanan direndam dalam air jembung = perintahnya dingin didepan panas dibelakang. Pohonnya : Tirisan = panjang umurnya, cukup rejekinya, tetap pikiranya.
Burungnya : urang-urangan = cepat kerjanya. Bahayanya : memanjat atu karena tingkahnya sendiri. Tangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah, lauknya daging sapi, dimasak bumbu manis, sayuran secukupnya. Selawatnya : pacul. Doanya : aelamat pina. Candranya : wesi trate pulasani = keras hatinya, cepat kerjanya, pemberi, jujur, belas kasihan. Ketika “kala wuku” berada dibawah, dalam 7 hari tak boleh turun dari gunung dan menggali tanah. 
25. Bala, dewanya batari Durga = suka berbuat huru-hara, takut yang mendengar, jahil, suka bercampur dengan kejahatan, tak asa yang ditakuti, pandai sekali bertindak jahat. Pohonnya : cemara = ramai bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati.
Burungnya : Ayam hutan = liar budinya, dicintai oleh pembesar, tinggi budinya, banyak tanda-tanda akan mendapat bahagia, suka tinggal ditempat yang sunyi. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah dilahir. Bahayanya : diteluh dan kena upas.Penangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah dikukus, sayur 7 macam, panggang ayam hitam. Selawatnya 40 keteng. Doanya : Rajukna : Udan salah mangsa = rejekinya dari jual beli.Ketika kala wuku berada di Barat-Laut, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
26. Wugu, dewanya sangyang Singajala = banyak akal, lekas mengerti, baik budinya. Pohonya : Wuni sedang berbuah = siapa yang melihat bagaikan mengidam, akantetapi jika telah makan, mencela, banyak rejekinya. Burungnya : Podang = cemburuan, tidak suka berkumpul. Gedungnya tertutup dibelakang = hemat dan pendia. Bahayanya : digigit ular dan disia-sia.
Penangkalnya : selamatan nasi pulen beras sepitrah dikukus dan bermacam-macam ketan, jajan pasar, lauknya daging bebek putih sejodoh dimasak dengan santan. Selawatnya 10 keteng. Doanya: Selamat. Candranya : awang-uwung = baik budinya.Ketika kala wuku berada di sebelah Selatan, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
  27. Wayang, dewanya batari Sri = banyak rejekinya, pradah, bakti, teliti, dingin perintahnya dicintai oleh orang banyak. Jembung berisi air didepan dan duduk disitu = sejuk hatinya, sabar, rela hati, akan tetapi harus diperlihatkan pemberiannya. Pasang keris terhunus = perintahnya mudah didepan, sukar dibelakang. Pohonnya = Cempaka = dicintai oleh orang banyak
3.     Burungnya = Ayam hutan = dicintai oleh pembesar, liar budinya, angkuh, senang tinggal ditempat yang sunyi. Bahayanya : kenah tulah dan difitnah.Penangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah dikukus, daging kambing kendit dimasak macam-macam ketan, ayam dimasak sesukanya, sayuran secukupnya. Selawatnya 40 keteng. Doanya : selamat. Candranya : damar murub, bumi langit = selamat, banyak ilmunya.Ketika kolo wuku berada diatas, dalam 7 hari tak boleh naik.
28. Kulawu, dewanya sangyang Sadana = kuat budinya, besar harapannya. Duduk dijembung berisi air ditepi kolam = sejuk hatinya, dingin perintahnya. Membelakangi senjata tajam = pikirannya terdapat dibelakang, agak tumpul. Pohonnya : Tal = panjang umurnya, besar harapannya, kuat budinya.
4.      Burungnya : Nori, boros, murka. Gedungnya didepan = memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Bahayanya : terkena bisa. Penangkalnya : selamatannasi golong beras sepitrah dikukus, lauknya daging ayam dan bebek yang berwarna merah, ikan dan daging burung, dimasak sekehendahnya. Selawatnya 5 keteng. Doanya : Kabula. Candranya : Bun tumetes ing sendang = ketika kecil miskin, akhirnya besar kebahagiannya, banyak rejekinya.Ketika kala wuku berada di Utara, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.  
29. Dukut, dewanya sangyang Sakri = keras hatinya. Menghadapi keris terhunus = waspada, tajam pikirannya, segala yang dilihatnya ingin mempunyainya. Pohonnya : Pandan wangi = kiri tempatnya, dengki, tak boleh didekati. Burungnya : Ayam hutan = dicintai oleh para pembesar, liar dan tinggi budinya, besar harapannya, suka tinggal ditempat sunyi.
5.      Membelakangi gedungnya = hemat dan pendiam. Bahayanya : dimedan perang.Penangkalnya : selamatan nasi tumpeng beras sepitrah dikukus, lauknya panggang ayam putih mulus dan ayam brumbun. Selawatnya satakswawe. Doanya : Slamet. Candranya : tunggul asri sesengkeraning nata = bagus rupanya, penakut.Ketika kala wuku berada di Barat, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kala.
  30. Watugunung, dewanya sangyang Antaboga dan batari Nagagini. Antaboga = senang tinggal dilaur kota untuk bertapa. Nagagini = gemar kepada asamara. Menghendaki janji = suka berapa ditempat yang sunyi, jika menjadi pendita, mendapat kehormatan, gemar bersemedi, sedihan hati. Pohonnya : Wijayakusuma = indah warnanya, sangat puaka, tinggi budinya, tidak suka pada keramaian, selamat hatinya, angkuh, teliti. Burungnya : Gogik = cemburu. Bilahinya : dianiaya.
Penangkalnya : selamatan beras sepitrah dikukus, lauknya daging binatang yang diburu, binatang berliang, burung, semuanya yang halal, dimasak bermacam-macam jenang, daun-daunan 7 macam. Selawatnya 9 keteng. Doanya : Mubarak. Candranya : Lintang wulan keraianan = terang hatinya, tetapi tidak bercahaya.Ketika kala wuku berapa di timur, dalam 7 hari tak boleh mendatangi tempat kolo.http://karatonsurakarta.blogspot.com/2009/09/wuku-horoscope-jawa.html
Waos SalajengipunPawukon

MITOLOGI jAWA

Mitologi Jawa

Sejak dahulu orang Jawa telah mempunyai “ perhitungan “ ( petung Jawa ) tentang pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Perhitungan itu meliputi baik buruknya pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Khusus tentang hari dan pasaran terdapat di dalam mitologi sebagai berikut :



1. Batara Surya ( Dewa Matahari ) turun ke bumi menjelma menjadi Brahmana Raddhi di gunung tasik. Ia menggubah hitungan yang disebut Pancawara ( lima bilangan ) yang sekarang disebut Pasaran yakni : Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon nama kunonya : Manis, Pethak ( an ) Abrit ( an ) Jene ( an ) Cemeng ( an ), kasih. ( Ranggowarsito R.NG.I : 228 )

2. Kemudian Brahmana Raddhi diboyong dijadikan penasehat Prabu Selacala di Gilingwesi sang Brahmana membuat sesaji, yakni sajian untuk dewa-dewa selama 7 hari berturut-turut dan tiap kali habis sesaji, hari itu diberinya nama sebagai berikut

a. Sesaji Emas, yang dipuja Matahari. Hari itu diberinya nama Radite, nama sekarang : Ahad.

b. Sesaji Perak, yang dipuja bulan. Hari itu diberinya nama : Soma, nama sekarang : Senen.

c. Sesaji Gangsa ( bahan membuat gamelan, perunggu ) yang dipuja api, hari itu diberinya nama : Anggara, nama sekarang Selasa.

d. Sesaji Besi, yang dipuja bumi, hari itu diberinya nama : buda, nama sekarang : Rebo.

e. Sesaji Perunggu, yang dipuja petir. Hari itu diberinya nama : Respati, nama sekarang : Kemis.

f. Sesaji Tembaga, yang dipuja Air. Hari itu diberinya nama : Sukra, nama sekarang : Jumat

g. Sesaji Timah, yang dipuja Angin. Hari itu diberinya nama : Saniscara disebut pula : Tumpak, nama sekarang : Sabtu.

Nama sekarang hari-hari tersebut adalah nama hari-hari dalam Kalender Sultan Agung, yang berasal dari kata-kata Arab ( Akhad, Isnain, Tslasa, Arba’a, Khamis, Jum’at, Sabt ) nama-nama sekarang itu dipakai sejak pergantian Kalender Jawa – Asli yang disebut Saka menjadi kalender Jawa / Sultan Agung yang nama ilmiahnya Anno Javanico ( AJ ). Pergantian kalender itu mulai 1 sura tahun Alip 1555 yang jatuh pada 1 Muharam 1042 = Kalender masehi 8 Juli 1633. Itu hasil perpaduan agama Islam dan kebudayaan Jawa.

Angka tahun AJ itu meneruskan angka tahun saka yang waktu itu sampai tahun 1554, sejak itu tahun saka tidak dipakai lagi di Jawa, tetapi hingga kini masih digunakan di Bali. Rangkaian kalender saka seperti : Nawawara ( hitungan 9 atau pedewaan ) Paringkelan ( kelemahan makhluk ) Wuku ( 30 macam a’7 hati, satu siklus 210 hari ) dll.

Dipadukan dengan kalender Sultan Agung ( AJ ) tersebut, keseluruhan merupakan petungan ( perhitungan ) Jawa yang dicatat dalam Primbon. Dikalangan suku Jawa, sekalipun di lingkungan kaum terpelajar, tidak sedikit yang hingga kini masih menggunakannya ( baca : mempercayai ) primbon.
Sadulur Papat Kalima Pancer

Hitungan Pasaran yang berjumlah lima itu menurut kepercayaan Jawa adalah sejalan dengan ajaran “ Sedulur papat, kalima pancer “ empat saudara sekelahiran, kelimanya pusat.

Ajaran ini mengandung pengertian bahwa badan manusia yang berupa raga, wadag, atau jasad lahir bersama empat unsur atau roh yang berasal dari, tanah, air, api dan udara. Empat unsur itu masing-masing mempunyai tempat di kiblat empat. Faktor yang kelima bertempat di pusat, yakni di tengah.

Lima tempat itu adalah juga tempat lima pasaran, maka persamaan tempat pasaran dan empat unsur dan kelimanya pusat itu adalah sebagai berikut :

1. Pasaran Legi bertempat di timur, satu tempat dengan unsur udara, memancarkan sinar ( aura ) putih.

2. Pasaran Paing bertempat di selatan, salah satu tempat dengan unsur Api, memancarkan sinar merah.

3. Pasaran Pon bertempat di barat, satu temapt dengan unsur air, memancarakan sinar kuning.

4. Pasaran Wage bertempat di utara, satu tempat dengan unsur tanah, memancarkan sinar hitam

5. Kelima di pusat atau di tengah, adalah tempat Sukma atau Jiwa, memancarkan sinar manca warna ( bermacam-macam )

Dari ajaran sadulur papat, kalima pancer dapat diketahui betapa pentingnya Pasaran Kliwon yang tempatnya ditengah atau pusat ( sentrum ) tengah atau pusat itu tempat jiwa atau sukma yang memancarkan daya – perbawa atau pengaruh kepada “ Sadulu Papat atau Empat Saudara ( unsur ) sekelahiran.

Satu peredaran “ Keblat papat kalima pancer “ itu dimulai dari timur berjalan sesuai dengan perputaran jam dan berakhir di tengah ( pusat ) Peta dari jalannya dapat digambarkan sebagai berikut : KaratonSurakarta. com
Waos SalajengipunMITOLOGI jAWA

Nyirami Calon Penganten Kudu Wis Mantu?

Nyirami Calon Penganten Kudu Wis Mantu?

Ing rapat-rapat panitia pancen kerep dadi pitakonan prekara sarate bisa nyirami calon penganten. Sajroning batin ana rasa tidha-tidha. Aja-aja yen nerak sarat, numusi tumrap calon penganten. Iki kudu diati-ati jalaran wong jejodhoan lan bebojoan yen bisa sepisan salawase urip. Mula bener menawa isih ana rasa ragu-ragu luwih becik mundhut priksa tinimbang nyiksa rasa. Siraman calon penganten pancen prelu katindakake. Wong arep dadi penganten mono tegese arep nindakake laku kang suci kanggo salawase. Awit saka iku kudu diwiwiti kanthi linambaran laku kang suci, yaiku resiking lair lan batin. Kanthi resik lair lan batin, calon penganten duwe rasa menep lan mantep napak jantraning urip mangun bebrayan. Wong arep dadi manten tegese bakal lumebu ing prastawa suci kang diarani ijab-qobul utawa nikah. Amarga nikah iku prastawa suci lan agung utawa prajanjen kang kuwat lan luhur, mula kudu linambaran sucining lair lan batin. Sucining lair kanthi nindakake siraman, sucining batin kanthi laku batin sarta ngantu-antu pepuji rahayu para pinisepuh nalika paring siraman.Apa kanthi mangkono calon penganten iku mesthi kudu nindakake siraman? Penulis ora ngudokake. Iki mono wujuding kabudayan. Dene kabudayan mono lair saka pangolahing budi, rasa, lan karsa kang duwe makna lan ancas luhur. Apa alane menawa calon penganten reresik lair lan batine, nyuwun pangestu para sesepuhe, ngraketake silaturahmine, kanggo ngadhepi laku kang suci ing salawase uripe. Mung sing prelu digatekake aja nganti kabudayan mau nyeret marang syirik lan musrik. Dadi calon penganten ora siraman ya ora apa-apa, tegese ora bakal ana waler lan sambekalane. Nanging apa iya, salagine arep menyang kantor wae padha siram, ngagem busana becik, lan wewangian, kok malah arep jumangkah kanggo miwiti laku kang suci (nikah) kanggo mbangun brayat salawase malah ora sesuci. Lho, sesuci (siraman) rak bisa kanthi adus dhewe ing kolah. Iya bisa nanging ora antuk pangestu lan donga para pepundhen. Iki sing mbedakake.

Urut Sarate Nyirami

Pancen ana urut sarate nyirami calon penganten. Iki mono andhedhasar tradhisi lan tata krama. Ing buku Siraman (2003) kang daktulis, urut sarate siraman prayogane sing mambu getih (trah utawa sedulur). Sawise wong tuwane calon penganten paring siraman, urute sarat sabanjure mangkene.Sepisan, urut saka pinisepuh amarga (a) para pinisepuh wis meneb ing rasa, bisa ngendhaleni nepsu (amarah, aluamah, supiah, mutmainnah), wis bisa mungkur ing kadonyan, (b) wong sing wis meneb ngungkurake kadonyan, dongane makbul bisa numusi calon penganten, (c) pinisepuh wis bontos lelakoning urip mula bisa suka wewarah/piweling utama tumrap calon penganten.Kapindho, isih jangkep. Tegese jangkep bapak lan ibu. Pinisepuh iki tegese bisa mbangun kulawarga kanthi lestari linambaran kabagyan lan kamulyan kang bisaa lumeber tumrap calon penganten sebab siraman mono ngluberake pangestu kang lumeber tumrap calon penganten.Katelu, lamun ora jangkep amarga seda, dadi ora amarga pisahan. Kasetyan mau bisa diwarisake tumrap calon penganten. Ora ana kang bisa misahake kekarone kajaba oncating nyawa saka raga. Dadi ora amarga disharmoni ing kulawarga.Kapapat, wis tau mantu. Becike pancen mangkono. Paraga sing nyirami wis tau mantu. Kanthi mangkono wus mangerti tenan tata carane nyirami.Kalima, menawa 1-4 ora ana, paraga nyirami calon penganten bisa saka wong liya sing ora mambu getih (sedulur), syarate sukses ing uripe: kariere becik, kulawargane bagya mulya, putrane padha “dadi wong”, lan liyane sauger sing becik-becik.

Kajaba Kepengin Mantu

Ana guyonan. Sing bisa nyirami iku yen wis tau mantu, kajaba wong mau pancen kepengin cepet mantu. Ing kene ngemu surasa walikan, yen kepengin cepet mantu nyiramana calon penganten! Ing prekara iki penulis durung tau mrangguli dhasare. Yen percaya ya mangga, dene ora ya ora apa-apa. Sing prelu digebengi bab pepesthen cepet mantu lan ora iku percaya wae sing nemtokake Gusti Allah kang Mahakuwasa. Sing prelu digatekake ora usah mangu-mangu lan tidha-tidha. Yen arep nyirami calon penganten, sing mantep sanajan durung mantu.

Drs. H. Suwarna Pringgawidagda, M.Pd, Dosen FBS, UNY, Praktisi MC
Waos SalajengipunNyirami Calon Penganten Kudu Wis Mantu?

Kembar Mayang

Wednesday, May 10, 2006

Kembar Mayang

Ada 2 (dua) sumber asal usul (sejarah atau mitos) Kembar Mayang yaiku :

a. Pakem Wayang Purwa
Menurut cerita wayang purwa, kembar mayang adalah perlengkapan yang diminta oleh Prabu Krisna pada perkawinan Sembadra dengan Raden Harjuna.

b. Primbon Jawa-Hindu Salaki Rabi

Cuplikan dari :
"De Kembar Mayang is de boom des leven" (Kembar Mayang Adalah Pohon Kehidupan Manusia)
Penulis : S. Hardjoprajitno (cuplikan ini diterjemahkan ke Bahasa Jawa oleh Eyang Kendro)

Sebenarnya bagi orang Jawa, perkawinan adalah sesuatu yang suci, sebagaimana yang dilakukan Bathara Kamadjaya dan Dewi Ratih, “bathara bathari pengasih” di kayangan Junggring Salaka, sebagaimana dituliskan di Primbon Jawa-Hindu Salaki Rabi.

Salah satu upacara yang sangat penting adalah "Upacara Panebusing Kembar Mayang" atau "Tumuruning Kembar Mayang" atau "Miyosipun Kembar Mayang saking Suwargo". Upacara tersebut dilakukan saat Malam Midodareni semalam sebelum acara Panggih atau Temu Pengantin, sekitar jam 22.00 sampai dengan jam 24.00. Kembar Mayang dibuat dan dihias oleh dua orang wanita dewasa (“sepuh”). Selanjutnya dibuatkan “sajen” lalu didoakan pada acara "Slametan Midodareni". Hal ini sebagai tanda bahwa perkawinan bukanlah sekedar bertemunya raga tetapi juga merupakan pertemuan dua jiwa yang menyatu untuk mengawali membangun keluarga.

Orang Jawa percaya bahwa Kembar Mayang adalah sebuah pemberian dari Sang Hyang Jagad Giri Nata, dan yang membawa adalah para bidadari dari surga, diantaranya: Prabasini (Supraba), Irim irim, Tanjung Biru, Warsiki, Gagar Mayang, Leng Leng Sari, serta Leng Leng Mandanu.
Kembar Mayang sebenarnya adalah juga pemberian beras ("uwos") dari para dewa. Kembar Mayang adalah ranting dari pohon Kalpataru yang tumbuhnya di sorga sebagai makanan para Dewa.
Badan Kembar Mayang dibuat dari potongan badan pisang (“debok”) yang panjangnya kurang lebih satu setengah “ kilan”. Lalu ditusuk dengan potongan bamboo berjumlah tiga, ditancapkan miring yang menggambarkan akar pohon. Batang pisang tersebut lalu dihias dengan bunga yang masih menempel di rantingnya, daun – daun beraneka ragam dan janur kuning yang ditekuk – tekuk membentuk sepasang burung. Janur dengan sepasang burung tadi ditusukkan di batang pisang agar tampak sebagai sepasang burung yang mencium bunga.
Kembar Mayang juga bisa disebut Sekar Mantyawarna, Sekar Adi Kalpataru, utawi Klepu Dewadaru kaliyan Jayadaru.
Waos SalajengipunKembar Mayang

Mistikisme Suruh, Sadak, lan Kinang

Tuesday, May 16, 2006

Mistikisme Suruh, Sadak, lan Kinang

Suruh klebu tetuwuhan sing dianggep sakral. Meh saben ritual Jawa, asring nggunakake suruh. Mula, suruh asring diarani ubarampe (sesajen). Godhong suruh, asring ditegesi kang memper karo tembung sirih, sareh, lan sedhah. Sirih tegese nyuda, njur dadi sesirik (nglakoni), ngurang-ngurangi. Memer hawa nepsu. Sareh, tegese alon - sareh dimen pekoleh. Sedhah, basa kramane suruh. Njur ana wangsalan sedhah siti (apu) boga kang binuntel roning klapa (kupat). Nyuwun apura mbokbilih kathah lepat kula.
Jaman simbah, suruh pancen mung ubarampe kanggo njaga kesehatan awak, utamane njaga untu. Kanggo nginang, ngganten, lan mucang amrih untune ora gampang pothol. Kejaba seka iku, kanthi nginang lambe bisa mingir-mingir, narik kawigaten. Karomeneh, wektu iku durung akeh lipstik lan dhokter gigi uga durung ngembrah. Ya mung sok ana sing kebablasen, anggone nginang diwuwuhi susur mbako enak mbako semprul sing njelehi. Angger simbah putri nginang, njur nguyer-uyerke susur, idu (abang) ing pakecohan — wah lali dhahar tenan. Uga ana sing nggunakake suruh kanggo ngrambang mripat klilipen, nambani mimisen, lan nambani weteng mbeseseg.
Nginang suruh sok diwuwuhi enjet, gambir, mbako, jambe, amrih bisa nundhung kruma ing cangkem. Samengko, nginang uga ngiras kanggo ngisi wektu kayadene wong udut. Malah ana jiwa sosial kang tuwuh seka nginang. Mligine yen lagi ana tamu, disuguh kinang, njur omong-omongan tutug. Mulane, ing jagad kethoprak kae yen ana paraga sepuh arep nglamarake wanita tumrap anake jejaka, sok kandha: “Yen sliramu wus ngesir salah sijine wanita, wong tuwa ora kabotan ndhodhog lawange, nginang gambir suruhe, lan nglungguhi ambene.”
Suruh asring kanggo ubarampe tradisi Jawa (manten, sadranan, supitan, lan liya-liyane). Mula, kapilih suruh ayu (sedhah ayu). Ayu, seka tembung hayu (rahayu), slamet. Tegese, suruh sing ora cacat, rupane ijo pupus ngelayoni. Trap-trapane suruh-ayu asring dijejerake pisang ayu, yaiku gedhang raja mulus kang branggah setangkep (rong lirang). Suruh dadi lambange rasa adreng arep weruh dununge keslametan. Dene pisang, seka tembung tepining sangkan. Pisang mau uga asring diarani sanggan (sangga buwana). Ateges, suruh ayu lan pisang ayu, nuduhake menawa selak kepengin weruh marang dunung (asal-usule manungsa), yaiku Kang Nyangga Buwana.
Suruh, ateges sing nindakake tradhisi enggal kepengin weruh marang surasane donya yaiku memayu hayuning bawana. Lamun suruh mau bisa nglelimbang memayu hayuning bawana, ateges uripe bakal ayem tentrem.
Suruh ngene iki pamrihe tumuju marang karahayon. Sing dipilih yaiku suruh kang matemu rose. Yaiku, suruh sing jlarit-jlarite godhong (balung-balunge godhong) ketemu. Temu rose, ateges ketemune rasa njero lan rasa njaba. Rasa njero kuwi rasa kang alus, rasane rohaniah, dene rasa njaba kuwi rasa kasar - rasane jasmaniah (wadhag). Rasa lelorone padha wigatine tumrap urip. Yen suruh mau dinggo ubarampe manten, temu rose ngemu surasa mistik minangka simbol ketemune rasa, cipta, lan karsa antarane manten lanang lan wadon. Mula manten sakloron sok dicandra ‘pindha suruh lumah lan kurebe, yen dinulu beda rupane yen ginigit padha rasane’. Ing kene ketemune rasa jalu-wanita (manunggal), angel kinayangapa.
Mulane, nalika manten panggih asring ana tradhisi balang-balangan suruh. Suruh mau diarani sadak. Antarane suruh lan sadak asring cawuh penganggone. Lelorone sok digebyah uyah, dianggep padha wae. Ngono uga ora kleru. Merga, suruh kuwi luwih cundhuk karo godhonge, dene sadak kuwi gagange. Gagang lan godhong manunggal. Suruh kang digawa manten kakung diarani gondhang tutur, lan suruhe manten wadon gondhang kasih. Ana meneh sing ngarani suruh lelorone aran jati mulya lan mulya jati. Lelorone bakal nyawiji, krasa tumanjem lair batin, lamun wus manjing dadi kinang. Kinang bakal nuwuhake idu abang putih nyawiji, kempel dadi wiji dadi. Manten sakloron mau adate dhisik-dhisikan balangan sadak. Sak kenane. Sapa sing anggone mbalang luwih dhisik tur pas ing perangan awak ‘wigati’, ateges wis weruh tenan dununge rasa sejati. Iki pancen simbol seksual kang dhuwur. Mula guyone pelawak, suruh iku sok dijarwakake dadi kesusu arep weruh. Weruh marang suruh (sesuruh, ateges pepadhang). Padhange ati lamun wus nyawiji.
Suruh, sadak, lan kinang pancen simbol mistikisme kejawen tulen. Suruh iku gegambarane karsa (karep, greget), sadak (rasa asmara), lan kinang (ciptaning ati). Tetelune bakal ngembangi uripe manungsa. Bisa disemak ing kisah simbolis Jaka Tingkir-Dhadhungawuk. Patine Dhadhungawuk, rak ya merga dibalang sadak Jaka Tingkir ta? Sadak ing mitos iki, genah lukisane rasa adreng (suruh), anggone Jaka Tingkir kepenin nginang jaman ketemu Dhadhungawuk (dhadhung+awak). Dhadhung kang dumunung ing awak, yaiku sampur. Pancen, nalika semana Jaka Tingkir kepranan marang putra ratune kang aran Rara Sampur.
Rara Sampur kok wis kebalang sadak, iki minangka tuduh mistis yen ketemune rasa (sadak), kesurung suruh (greget), arep nginang (nyawiji). Dheweke kasil mbradhat dhadhunge awak, ateges kaoyak nepsu makantar-kantar. Mung begjane, Jaka Tingkir isih waspada buktine bisa nelukake kebo dhanu nganggo lemah sakral. Kebo (iku simbole wong bodho) lan dhanu tegese asmara. Jaka Tingkir bisa mberat cubluke asmara, tegese nafsu birahi. Wusana bisa diangkat meneh dadi tamtama (lelananging jagad). Ra ya ngono ta?
Drs. Suwarna Pringgawidagda, M.Pd, Pengajar Filsafat Jawa ing FBS UNY
Waos SalajengipunMistikisme Suruh, Sadak, lan Kinang

Tumplak Punjen

Sunday, May 04, 2008

Mantu si Bungsu : Tumplak Punjen

Pengertian:
Pada saat seseorang menikahkan (atau dalam bahasa Jawa disebut "mantu") anaknya yang terakhir maka secara adat Jawa ada tata laksana yang menandai "mantu terakhir" tersebut yaitu acara Tumplak Punjen. Penegrtian mantu ada yang berpendapat hanya untuk menikahkan anak wanita saja, tetapi ada juga yang berpendapat menikahkan anak laki - laki juga disebut "mantu".
Tumplak artinya tumpah (keluar semua) karena wadah ditumpahkan. Ditumplak artinya ditumpahkan, dikeluarkan semua (Poerwodarminta, 1939: 614). Punjen artinya dipanggul. Yang dipanggul adalah tanggung jawab, yakni tanggung jawab orangtua terhadap anak. Tumplak punjen artinya semua anak yang dipunji (menjadi tanggung jawab orangtua) telah dimantukan (ditumpak). Secara umum upacara Tumplak Punjen adalah dengan cara menumpahkan punjen (pundi - pundi) yang berisi peralatan tumplak punjen.

Tujuan dan Makna
a, Tasyakur (puji syukur) kepada Allah SWT, karena telah menuntaskan tanggung jawab untuk menikahkan putrinya
b. Memberitahukan kepada kerabat bahwa tugas untuk menikahkan putrinya telah selesai
c. Memberutahu kepada anak bahwa tugas orangtua telah selesai
d. Tanda cinta kasih orangtua kepada anak
e. tanda bakti anak kepada orangtua (ditandai dengan sungkeman)
f. Teladan agar suka bersedekah kepada sesama.
g. Harapan dan doa orangtua untuk kebahagiaan anak cucu.

Pelaksanaan
Tumplak punjen dilakukan pada rangkaian acara Panggih Penganten, yaitu sebelum Besan Mertui atau Mapag Besan (menjemput Besan). Adapaun tata laksananya adalah sbb:
a. Sambutan dari wakil putra putri yang ditujukan untuk bapak ibu
b. Jawaban dari bapak ibu
c. Sungkeman, mulai dari anak sulung sampai ke anak bungsu (penganten) beserta pasangan masing - masing (menantu). Saat sungkem orang tua memberikan katung kecil yang berisi biji - bijian, beras kuning, empon - empon, bunga sritaman, dan uang logam. Boleh juga berupa hadiah yang lebih besar nilainya (misal : perhiasan). Kantung - kantung kecil tersebut diambil dari bokor kencana (bokor keemasan). Isi bokor selengkapnya adalah : kantung - kantung kecil, biji - bijian (beras kuning, kedele, jagung, empon - empon, kembang sritaman, dan uang. Isi bokor tersebut biasa juga disebut udhik - udhik.
d. Setelah sungkeman selesai, orangtua menyebar isi bokor (udhik - udhik) dan semua anak cucu dan para tamu, boleh berebut. Udhik - udhik agar disisakan sedikit untuk tata laksana berikutnya.
e. Sisa udhik - udhik ditumplak (ditumpahkan) di depan pelaminan.
f. Selesai.

Pustaka:
Suwarna Pringgawidagda, Tata Upacara dan Wicara Pengantin Gaya Yogjakarta, 2006, Penerbit Kanisius. (DP)
Waos SalajengipunTumplak Punjen

SELAMAT dan SUKSES

Selamat dan Sukses kepada saudara Juang Jatmiko dan Iriana terpilih menjadi Ketua dan wakil Ketua HIMA JAwa 2011
Waos SalajengipunSELAMAT dan SUKSES